Istilah ini adalah istilah Alquran. Untuk menyebut sesembahan lain selain Allah. Apa saja selain Allah, entah itu syetan, dukun, filosof, pimpinan, Undang-undang, ide, atau apa saja yang disembah (ditaati melebihi ketaan kita kepada Allah) maka ia berpotensi menjadi Thoghut. Allah berfirman, tidak ada paksaan dalam agama (baca masuk Islam), sungguh telah jelas yang haq dari yang bengkok. Barang siapa kufur/ingkar kepada THOGHUT dan beriman kepada ALLAH, sungguh ia telah berpegang kepada tali yang sangat kokoh, yang tidak akan putus. Allah maha mendengar lagi maha mengatahui. (QS:2:256).
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan
(kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir,
pelindung-pelindungnya ialah Thoghut /syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya
kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya. (QS 2:257)
Firman yang lain dalam surat an Nisa ayat 60 :
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman
kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu
? Mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], padahal mereka telah
diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka
(dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya
catt [312]. yang selalu memusuhi Nabi dan kaum Muslimin dan ada
yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga: 1. Orang
yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu.2. Berhala-berhala.
An Nisa ayat 51 : Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab?
Mereka percaya kepada jibt dan thaghut[309], dan mengatakan kepada
orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari
orang-orang yang beriman.
An Nisa 76 : Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir
berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu,
karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.
Az Zumar ayat 17 :
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah-
nya[1310] dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita
gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku,
An Nahl 36 : Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu", maka di antara umat
itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya
orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka
berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang mendustakan (rasul-rasul).
Begitu banyak ayat alquran memerintahkan kita untuk hanya menyembah Allah dan menjauhi Thagut.
Tapi saat ini ada satu thaghut yang dielu-elukan oleh ummat manusia, juga sebagian oleh kaum muslimin yang tidak menyadari, bahwa ia telah menyembah thagut. Thagut itu telah menyihir berjuta-juta ummat manusia , bahkan para kaum intelektualnnya. Thagut itu juga telah menyengsarakan bukan saja ummat manusia tetapi alam semesta, hutan, laut, gunung dan kutub merintih menerima perlakuakn kejam thaghut tersebut. APakah thaghut itu? Itulah Ideologi Sekulerisme dengan anak kandungnya yang bernama HAM dan DEMOKRASI. Mungkin ada yang membantah pendapat ini, tetapi cobalah telusuri sejarah ideologi ini, darimana ia berasal, telusuri juga sejarah peperangan-peperangan dunia, semua lahir dari rahim ideologi ini. Saat ini dunia dalam kondisi krisis terus menerus , juga akibat ulah ideologi ini. Wahai kaum muslimin...belum tibakah waktunya menyadari bahwa ideologi ini harus segera kita buang ke keranjang sampah sejarah? agar kita dapat ikut andil menyelematakan dunia dan iman kita dari kemurkaan Allah SWT.
Banyak orang memahami bahwa
kematian itu terjadi karena sebab-sebab tertentu. Jika orang terkena penyakit
kanker, kemudian tidak dapat disembuhkan, akhirnya mati. Orang yang jatuh ke
jurang, kemudian kepalanya pecah, itulah yang menyebabkan kematian. Orang yang
ditusuk dengan pisau, tepat mengenai jantungnya, itulah yang menyebabkan
terjadinya kematian. (Kesalahan Jenis
Pertama)
Sebagian orang juga meyakini
kematian itu datangnya dari Allah semata. Usaha manusia itu tidak ada gunanya. Manusia cukup
hanya pasrah pada Allah. Apapun yang ditetapkan Allah, itulah ajal kita.
Manusia tidak perlu bersusah-payah dalam menghindari kematian. Semua sudah
sesuai ajalnya (Ini Kesalahan Jenis
kedua).
Lalu bagaimana pemahaman yang benar tentang
kematian?
Sesunggguhnya kematian adalah perkara yang GHOIB,
kapan, dimana, apa penyebabnya bukanlah perkara yang dapatg disandarkan kepada
akal belaka, tetapi harus dicari dari sumber informasi tentang hal-hal yang
ghoib, yaitu Alquran dan sunnah Rasul. Apa yang dikira sebagai penyebab
kematian sesungguhnya bukan penyebab (AL-Asbab),
tetapi adalah Al-Haal (apa-apa yang
biasanya terjadi yang dapat menghantarkan kepada kematian, dan bersifat tidak
pasti). Adapun Asbab (hal yang pasti) penyebaba kematian itu sendiri adalah
DATANGNYA AJAL. Sebagaimana firman Allah berikut :
Dalil menunjukkan REALITAS KEMATIAN BERASAL DARI
ALLAH sebagai –ALMUHYI (Yang menghidupkan) dan Al MUMIT (Yang Maha Mematikan).
Kapan kalau sudah sampai AJALnya.
“Sesuatu
yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan
yang Telah ditentukan waktunya” (QS. Ali Imran: 145)
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa
(orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang
telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu
yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Az-Zumar: 42)
KEMATIAN
TIDAK DAPAT MAJU /MUNDUR: KETENTUAN DI TANGAN ALLAH.
“Dan
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila Telah
datang waktu kematiannya” (QS. Al-Munafiqun: 11)
AL
–A’rof (34), diulangi dengan redaksi sama di Yunus:49, diulangi :dengan redaksi
beda di An Nahl 61.
Tiap-tiap umat
mempunyai batas waktu[537]; maka apabila telah datang
waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya
Jika
ajal tiba manusi tidak dapat lari. Ajal tidak dapatg dimajukan (meskipun orang
sakit parah dan ingin bunuh diri), atau dimundurkan (meskipun orang berlindung
dibalik benteng yang kokoh).
DILUAR
KUASA MANUSIA (Yakin kematian dari Allah, Yakin Allah selalau melindungi,
memuncujlkan semanagt berjuang tanpa takut2) Ini tidak dihisab. YANG DIDALAM
KUASA MANUSIA (SENANTIASA TERIKAT DENGAN SYARIAT ALLAH, Jangan ke dukun jika
berobat, Senantiasa terikat dengan hukum Allah (SUNNATULLAH)dalam menghindari kematian.. Menjag
akesehatan dll)
Fungsi
memahami kematian yang benar
•Selalu
berani dan bersemangat (karena
dilindungi Allah).
•Selalu
terikat dengan hukum syara’dalam hidup dan berjuang (karena kita mesti mengupayakan Al-haal
kematian yang paling tinggi nilainya).
•Akan
senantiasa berhati-hati dalam hidup dan berjuang (karena tidak boleh masuk kategori bunuh diri).
•Tidak
takut mengambil resiko dalam perjuangan yang menuntut kita untuk menegakkan agama.
•Senantiasa bercita-cita
untuk mati syahid.
Sebuah hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Abbas r.a, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya :
"Bahwa malaikat maut meperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali
dalam sehari. Ketika Izrail datang merenung wajah seseorang, didapati orang itu
ada yang gelak-ketawa. Maka berkata Izrail : Alangkah herannya aku melihat
orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah Taala untuk mencabut nyawanya,
tetapi dia masih berhura-hura dan bergelak-tawa. hari=24 jam atau 1440 menit, dalam sehari kita dikunjungi
malaikat maut sebanyak 7
kali, dengan kata lain dalam sehari kita malaikat maut mengunjungi kita setiap
20,57 menit.
Sebuah kata yang sering dan selalu kita dengar. Bahkan pada sementara kalangan sangat akrab. Setiap kali disebut dengan berbagai kata turunannya. Kata-kata turunan itu misalnya "maslahah dakwah","aktivis dakwah", "mujahid dakwah", "gerakan dakwah", "partai dakwah", "dakwah bil hal", "dakwah kultural", "dakwah politik", dll, dsb. Penulis pernah suatu saat memasuki sebuah blog yang FULL bicara tentang DAKWAH. Judul-judul blog penuh nasehat, seperti "BEKAL UNTUK PEJUANG DAKWAH", " NASEHAT UNTUK AKTIVIS DAKWAH", "KETIKA DAKWAH MULAI FUTUR".. dll. Tapi saya telusuri satu demi satu blog itu artikel-artikelnya tidak satupun mendefinisikan APA ITU DAKWAH? Yah mungkin penulis blog berasumsi bahwa seluruh pembacanya tahu dan mengerti apa itu dakwah.
Pada kenyatannya kadang kita bicara sesuatu konsep dengan teman sementara lawan bicara dengan kita memiliki pemahaman yang berbeda tentang konsep yang sedang kita bicarakan tersebut. Demikian juga tentang konsep DAKWAH. Sering sekali pemahaman pembicara berbeda dengan lawan bicara dan kemudian adu argumen seru dengan pemahaman yang berbeda tersebut. Apa lalu sebenarnya DAKWAH itu? Secara bahasa dakwah berasa dari kata da'a, yang artinya menyeru atau mengajak, manusia agar mau mengikuti ajakan sang penyeru (da'i). Secara istilah dakwah (atau tepatnya "dakwah islam")berarti menyeru atau mengajak ummat manusia untuk mau menerima Islam dan mengamalkannya. Dari sinilah muncul keluasan makna yang sangat besar. Islam mencakup segala macam aspek rinci yang sangat luas. Seseorang bisa mengambil bagian manapun dari islam yang akan dia pilih agar orang lain mau mengikuti. Seorang guru TPA yang mengajak anak-anak belajar Juzz Amma juga sudah ber-dakwah, demikian juga Guru Ngaji di kampung yang mengajari tata cara shalat jenazah juga sudah berdakwah, atau seorang "politikus" bisa mengatakan bahwa dai masuk parlemen karena ingin berdakwah di parlemen dan agar parlemen bisa lebih "islami" gitu. Nah, di sini mulai terbuka perbedaan pemahaman tentang dakwah. Seseorang bisa saja ingin jadi da'i single fighter yang "pekerjaan-nya" ceramah di mana-mana, mengisi pengajian di mana-mana, dan bicara apa saja yang penting "islam". Tapi orang tersebut enggan dan tidak mau mengikatkan diri dengan jamaah dakwah. Lho apa yang salah? Apa pula itu "jamaah dakwah"? apakah "kumpulan orang-orang yang pekerjannya berdakwah?". DI sini muncul konsep lagi yang baru yang harus disamakan dulu persepsinya, yaitu "JAMAAH DAKWAH".
Pengertian JAMAAH DA'WAH. Setiap orang yang bergabung dengan jamaah dakwah pastinya telah membaca ayat alquran AL Imran 104 ini :
Ayat ini oleh saudara-saudara dari kalangan Muhammadiyah sering disebut ayat Muhammadiyah, karena dari sinilah lahir gerakan dakwah Muhammadiyah. Tentu muhammadiyah selaku gerakan dakwah. Disimpulkan bahwa untuk dakwah kepada Islam tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri, organisasi atau jamaah itu hukumnya wajib, harus ada. Jika kemungkaran terorganisir dan berjamaah dengan rapi maka bagaimana kebaikan bisa mengalahkan kemungkaran jika ia tidak terorganisir. Dari sini dapat dimengerti bahwa jika seseorang tidak mau mengikatkan dengan jamaah dakwah sesungguhnya dakwah nya akan lemah. Meskipun bisa saja ia tetap disebut seorang da'i. Tapi hasil seruan-nya akan sangat terbatas.
Lantas apa tujuan jamaah dakwah? Di Indonesia ini banyak sekali jamaah dakwah, sekedar menyebut yang sering muncul : Muhammadiyah, NU, FPI, MMI, HTI, Jamaah Tabligh, Majlis AdzZIkra, Majlis tafisr Alquran (MTA), Salafi, Persis, Tareqat-tareqat sufi, partai-partai politik islam, atau sekedar majlis-majlis taklim ibu-ibu dst dll. Kenapa jamaah itu sedemikian banyak? dan apakah dibolehkan jamaah yang banyak tersebut? Ada sementara pihak yang melarang firqoh-firqoh yang banyak dengan menggunakan hadits nabi tentang nanti ummatku akan pecah menjadi 73 golongan. Alasan seperti itu enurut hemat kami kurang tepat, karena adanya jamaah dakwah yang banyak tersebut muncul dari perbedaan di dalam memandang islam, perjuangan islam, dan prioritas perjuangannya. Jamaah yang banyak tersebut "Insya Allah" semuanya bertujuan ingin memperbaiki islam, ingin memperjuangkan islam, dan ingin agar ummat islam berjaya kembali di bumi ini. Tetapi ketika mereka memandang bagaimana memperjuangkan islam, apa yang harus diperjuangkan lebih dahulu, dan bagaimana menerjemahkan perjalanan dakwah nabi, mereka berbeda pendapat. Jadilah mereka bertahan dengan masing-masing pendapatnya ini dalam memperjuangkan islam. dan semuanya adalah "jamaah dakwah", semuanya bertujuan ingin islam mulia, ingin islam jaya. Dus tujuannya sama :"BERJAMAAH DALAM RANGKA MEMPERJUANGKAN ISLAM".
Kalau tujuannya sama, lantas kenapa mesti berbeda? Ya jawabannya karena perbedaan dalam memandang prioritas dan metode dakwah. Ada yang memandang yang mendesak adalah mengatasi kemiskinan dan memperbaiki pendidikan. Maka dakwah harus dimulai dari sana. Memandang bahwa dakwah melalui politik akan banyak kendala, maka mulai lah dakwah dengan pendekatan kultural. Yang lain memandang bahwa kehancuran ini karena ummat rusak aqidahnya, kotor dan berlepotan dengan syirik dan bid'ah. Maka dakwah harus dimulai dengan memurnikan akidah yang semurni-murninya. Yang lain lagi memandang bahwa dalam islam itu jamaah dapat diukur dengan sejauh mana jamaah shalat sudah dilakukan, kalau jamaah shalat saja kacau balau, apalah lagi jamaah yang lebih luas dalam bentuk politik atau mengatur negara? Yang lain lagi melihat bahwa dalam kehidupan ini pihak yang menjadi panglima kehidupan adalah politik. Segala sesuatu dimulai dari politik, dan pemerintahan yang rusak adalah sumber dari segala bentuk kerusakan. Oleh karena itu maka dakwah harus dimulai dari politik. Nabi adalah seorang politikus yang ulung....!!!
Yang lain lagi memandang bahwa politik itu kotor, politik itu panglimanya adalah kepentingan. Dan kerusakan ini disebabkan karena manusianya rusak. Dan manusia itu rusak karena hatinya rusak. Maka memperbaiki sistem yang rusak harus dimulai dengan memperbaiki manusianya. Dan memperbaiki manusia harus dimulai dengan memperbaiki HATINYA. QOLBUNYA mesti di-"menej" dengan benar dan baik, baru ia akan menjadi manusia yang baik.
Mungkin kita akan bingung, karena sepintas kilas semua jawaban itu benar adanya. Lantas adakah jawaban yang paling benar??? Lantas sebaiknya ikut jamaah yang mana?? Atau kalau bingung ya tidak usah berjamaah saja. Atau ikut "jamaah bingung" saja?.