Thursday, October 20, 2011

APOLOGI ITU BERNAMA : ISLAM MODERAT


"We are the moderat", "Kami adalah islam moderat", begitu sering kita mendengar apologi atau permintaan maaf, jika seseorang diajak bicara-bicara mengenai perjuangan penerapan syariat islam di Indonesia. Mereka berargumen bahwa penerapan syariat islam di Indonesia itu melawan konsensus para pendiri bangsa, atau keren-nya "THE FOUNDING FATHER". Penerapan syariat islam di Indonesia juga akan "melukai" ummat agama lain dan hanya akan mencerminkan bahwa ummat islam itu "egois" dan mau memaksakan kehendak. Mereka menganggap bahwa orang islam yang mau menerapkan syariat islam di Indonesia itu adalah orang-orang picik, dangkal dan "tidak tahu" islam, mereka adalah orang-orang fundamentalis, radikal, dan ujung-ujungnya adalah TERORIS!!.
Benarkah semua anggapan itu?
Kalau mau merenung sebenarnya tidaklah demikian. Mari kita merenung sebeanarnya siapa sih yang membuat label-label tersebut? -ISLAM RADIKAL- , -ISLAM MODERAT-, -ISLAM FUNDAMENTALIS-, -ISLAM SUBSTANSIALIS - dll. Kalau dirunut-runut ternyata akar dari label-label tersebut berasal dari luar islam, tepatnya para pemikir barat (misalnya definisi Elposito di wikipedia tentang islam fundamentalis) , atau barat sekuler, yang kemudian diamini dan disetujui oleh kaum muslimin liberal dan sekuler (contoh tulisn tentang kebangkitan islam moderat di islamlib.com ). Islam sendiri logisnya tidak dapat dikotak-kotak seperti itu. Islam ya Islam, UTUH. Ketika sebagai muslim kita meyakini bahwa islam mengatur seluruh aspek kehidupan kita, maka orang tesebut akan merasa "kurang islam" jika yang diamalkan hanya ibadah dan akhlak saja, sementara hukum,ekonomi dan politik yang juga merupakan syariat islam tidak dijalankan. Tetapi kaum muslimin yang menganggap diri mereka moderat akan berfikir lain dan mengangggap mereka yang terus "ngotot" ingin menerapkan syariat islam itu radikal dan tak tahu diri. Mereka lupa bahwa syariat islam itu bukan hanya sholat dan puasa atau hanya ajaran jujur dan amanah. Syariat islam bahkan mengatur rinci bagaimana sistem ekonomi ditagkkan dan sistem pidana dijalankan. Tetapi karena sistem itu bertentangan dengan realita yang dikuasai sistem barat maka mereka "relakan" sistem itu tidak jalan dengan alasan mereka adalah orang-orang moderat.....
... balada orang-orang moderat.....bahkan menggunakan dukungan ayat bahwa mereka adalah ummatan wasathan, ummat tengahan... yang sedang-sedang saja dalam ber islam, tidak sekuler tapi juga tidak fundamentalis. Alquran bahkan menurut mereka menyuruh ummat islam bersikap moderat, berikut ayat tersebut dalam QS:2:143 :

Artinya : "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan"
Kata-kata washat diterjemahkan sebagai tengahan, tengah-tengah, tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim kanan karena itulah sikap terbaik.
Padahal makna sebenarnya adalah ummat yang adil, bukan ummat yang tengah2. Ummat yang adil yang akan menjadi saksi di akhirat ketika semua manusia diadili di sisi Allah, sebagaimana kelanjutan ayat tersebut. Tapi anehnya mereka memaksakan tafsir makna ayat "washat" tersebut sebagai dalil perintah untuk bersikap moderat.
Jika kita mau membaca apa sebenarnya yang ada dibalik promosi islam moderat, maka akan kita temukan "udang dibalik batu" maksud sebenarnya, dan itu logis saja ketika mereka adalah para pemikir barat. Sebagai contoh misalnya :
Daniel Pipes misalnya mengungkap sejumlah karakter muslim moderat antara lain: mengakui adanya persamaan hak-hak sipil antara muslim dan non muslim; membolehkan seorang muslim berpindah agama; membolehkan wanita muslim menikahi pria non-muslim; menerima dan setia pada hukum pemerintahan non-muslim; berpihak pada hukum sekular ketika terdapat pertentangan dengan budaya Islam. John Esposito, menyatakan perbedaan signifikan antara radikal dan muslim moderat adalah kelompok radikal merasa bahwa Barat mengancam mereka dan berupaya mengontrol pandangan hidup mereka. Sementara kelompok moderat sangat bersemangat membangun hubungan dengan barat melalui pembangunan ekonomi.

Robert Spencer–analis Islam terkemuka di AS–juga menyebut kriteria seseorang yang dianggap sebagai muslim moderat antara lain: menolak pemberlakuan hukum Islam kepada non muslim; meninggalkan keinginan untuk menggantikan konstitusi dengan hukum Islam; menolak kewajiban untuk menarik pajak berdasarkan agama (jizyah) terhadap non-muslim (QS. 9:29); menolak supremasi Islam atas agama lain termasuk perintah untuk memerangi orang-orang Yahudi dan Nasrahi hingga mereka tunduk (QS. 9:2); menolak aturan bahwa seorang muslim yang beralih pada agama lain atau tidak beragama harus dibunuh; mendorong kaum muslim untuk menghilangkan larangan nikah beda agama termasuk sanksi yang membolehkan suami memukul istri (QS. 4:34).
Jika seperti itu islam moderat yang mereka inginkan,dan mereka pahami, masihkah kita tertarik dan bahkan bangga mengaku diri sebagai moderat??? Masihkan kita hanyut bahkan terprofokasi bahwa di Indonesia ini ada NU dan MUHAMMADIYAH yang keduanya adalah BENTENG MODERAT yang harus dibantu untuk menghadang laju kebangkitan ISLAM RADIKAL. Padahal baik orang NU atau Muhammadiyah yang sejati tentu tidak setuju dengan pendapat Daniel Pipes dan Robert Spencer atau Elposito tersebut... sebagaimana telah digugat dalam tulisan di referensi dibawah ini.

Ref : Menggungat Islam Moderat

No comments:

Post a Comment